BHAGAWADGITA (Bab XVI)

Yang Berhati Suci dan Yang Berhati Iblis

Bersabdalah Yang Maha Pengasih:
1. Tidak memiliki rasa takut, kemurnian hati, ketegaran dalam ilmu dan yoga, memberikan dana, kendali diri, pengorbanan, mempelajari buku-buku suci, tindakan disiplin spiritual (meditasi, puasa, pantangan dan lain sebagainya), menjunjung tinggi kebenaran;

 

2. Tidak mencelakakan yang lainnya, kejujuran, jauh dari rasa amarah, penyerahan total hasil dari tindakan-tindakannya, kedamaian, tidak mencari-cari kesalahan, rasa sayang terhadap semua makhluk hidup, kesederhanaan, jauh dari rasa ketidak setiaan;


3. Keperkasaan (keberanian), pemaaf, dapat menahan penderitaan, kesucian, jauh dari rasa iri, bebas dari rasa sombong yang berlebih-lebihan — ini semua, oh Arjuna, adalah ciri-ciri seseorang yang lahir dalam keturunan yang suci.
Di dunia ini ada dua jenis manusia, yaitu yang suci dan yang bersifat iblis. Manusia-manusia yang lahir dengan karakter-karakter yang suci secara mendasar sudah spiritual sifatnya. Mereka-mereka ini adalah jiwa-jiwa yang hidup dalam raga tetapi tak terpengaruh oleh Sang Maya. Mereka ingat dan sadar akan kesucian yang menunjang mereka untuk sampai ke Rumah Tujuan akhir nanti. Segala perbuatan dan tindak-tanduk mereka memancarkan kesucian dan kemurnian bagi sesamanya dan diri mereka sendiri. Dalam tindak-tanduk mereka di dunia ini mereka tidak menunjukkan nafsu atau keinginan-keinginan duniawi baik dalam cara berpikir, aspirasi maupun perbuatan mereka. Mereka ini selalu terserap dalam yoga dan jauh dari segala bhoga (kenikmatan-kenikmatan duniawi). Semenjak lahir, dalam diri mereka telah nampak tendensi-tendensi suci. Bakat-bakat kesucian ini mereka bawa dari karma yang terdahulu, dan dipraktekkan dengan lebih aktif lagi di kelahiran mereka yang berikutnya secara lebih intensif.
Mereka-mereka yang dianggap memiliki ciri-ciri keturunan suci ini (daivi sampad), dan telah siap melangkah ke arah pembebasan duniawi ini menampakkan dua-puluh enam ciri-ciri atau tanda-tanda khas, seperti berikut ini:
1)   Tak memiliki rasa takut. Kita sering sekali dilanda rasa takut dan khawatir dalam hidup ini seperti takut dan khawatir kehilangan barta-benda, milik atau seseorang yang tersayang dan lain sebagainya. Seseorang yang telah menyerahkan atau memasrahkan semua tindakan dan hasil tindakan mereka kepada Yang Maha Esa, dan yakin akan kehendakNya semata tak akan pernah takut, khawatir dan gentar mengarungi hidup ini. Baginya hidup ini adalah suatu tindakan atau pekerjaan yang suci demi Yang Maha Esa, jadi tak ada lagi rasa takut dalam diri mereka, karena selain merasa tak memiliki sesuatu apapun juga di dunia ini, mereka ini juga dapat merasakan kasih-sayang Ilahi Yang Tak Terbatas yang tak dapat dirasakan oleh mereka-mereka yang belum sadar sepenuhnya.
2)    Kesucian atau kemurnian hati. Kebersihan hati berarti lepas dari segala unsur-unsur atau sifat-sifat palsu, betapa kecilpun sifat palsu itu. Biasanya seorang yang tabah dalam hidupnya dan sudah lepas dari segala rasa takut, akan berubah menjadi seorang ‘anak-kecil’ yang bersih dan murni hati dan tingkah-lakunya. Goethe pernah berkata, “Bersihkan dirimu dengan merendahkan dirimu.” Untuk menjadi murni dan bersih ini, seseorang harus selalu berpikir bahwa raga ini adalah ‘kuil dari Sang Atman Yang Suci dan Agung. Hati yang suci-bersih tak pernah menuntut atau mengingini apapun juga selain mengasihi Yang Maha Esa dan menerima semua kehendakNya semata tanpa pamrih. Jadilah dikau hati yang suci dan murni dalam segala tindak-tandukmu, dalam segala pikiran dan puja-pujimu.
3)    Ketegaran atau keteguhan dalam ilmu pengetahuan sejati mengenai Yang Maha Esa, dan ketekunan dalam yoga adalah praktek-praktek disiplin ketat dalam menekuni ilmu-sejati ini. Ketegaran ini dasarnya adalah moral dan iman yang kuat. Caranya ada beberapa macam dan semuanya menuntut keyakinan, ketekunan dan keteguhan yang tak ada putus-putusnya dalam melakukan: (a) meditasi setiap harinya, (b) usaha-usaha spiritual seperti puasa dan sembahyang dan lain sebagainya yang dipilih masing-masing individu, (c) cinta-kasih yang tulus pada setiap makhluk, benda dan sesamanya, (d) melayani atau bekerja tanpa pamrih demi membantu fakir-miskin, orang-orang tua, orang-orang sakit dan mereka-mereka yang pantas ditolong, dan semuanya ini harus dilakukan tanpa pamrih. Dalam melakukan semua usaha-usaha ini akan banyak ditemui hambatan-hambatan yang sukar dan sering sekali terjadi para pemula tumbang karena tidak melihat hasil yang nyata dan segera. Tetapi seseorang yang tegar akan berjalan dan melangkah terus dengan perlahan tapi pasti, dan suatu saat karena keyakinannya yang tegar ia akan sampai ke tujuannya yang mulia. la sadar sukar dahulu, mudah kemudian, itulah jalannya.
4)  Dana atau amal dianjurkan bukan saja dalam agama Hindu tetapi juga dalam agama-agama besar lainnya, dan ini merupakan salah satu jalan untuk membersihkan diri kita. Yesus sendiri berkata, “Secara cuma-cuma engkau telah menerimanya, secara cuma-cuma pula berikanlah!” Lalu apakah dalam hidup ini, kita benar-benar rela memberikan harta-benda yang kita kira sudah jadi milik kita kepada yang paling membutuhkannya? Relakah kita berkorban sedikit saja demi sesama makhluk atau manusia lainnya yang menderita? Sebenarnya dana atau amal-perbuatan yang baik tidak dihitung dari segi kuantitasnya melainkan dari segi kualitasnya. Dan yang paling penting dari semua itu adalah itikadnya, itikad yang ada di balik semua perbuatan baik itu. Dana atau amal itu datang dari hati-nurani kita yang tulus dan bukan dari harta-benda atau pun kedudukan kita, bukan juga dari paksaan atau keadaan tertentu. Sebuah senyum kecil yang simpatik untuk seseorang yang membutuhkannya adalah dana, memberikan air kepada seorang musafir yang kehausan adalah dana, menyingkirkan kulit pisang di jalan agar orang lain tidak terpeleset adalah dana, menyisihkan waktu sedikit untuk menolong seseorang yang memerlukannya adalah dana. Tiga faktor utama dalam ajaran agama Islam adalah amal, puasa dan sembahyang. Alkisah suatu waktu seorang yang bernama Bernard ingin bergabung dengan St. Francis dalam melakukan misi-misi sucinya, maka berkatalah St. Francis kepadanya, “Pertama-tama pergi dan juallah apa yang kau punya dan berikanlah kepada yang miskin dan papa.”
5)   Kendali diri, yaitu kendali pada indra-indra kita dan menguasai selera dan nafsu-nafsu kita yang selalu kelaparan akan obyek-obyek indra ini. Kuda-kuda liar dapat dijinakkan, begitupun indra-indra ini adalah ibarat kuda-kuda ini, merekapun harus dijinakkan. Bagaimana caranya? Jadilah engkau seorang kusir atau penunggang kuda ini dan bukan sebaliknya! Raga kita sebenarnya diciptakan agar menjadi karma-kshetra, tetapi kebanyakan diantara kita malahan menjadikannya bhoga-kshetra (ladang untuk mencicipi kenikmatan). Kuasailah semua trishna atau keinginan-keinginan dan selera-selera, kendalikanlah nafsu-nafsu dan hasrat-hasratmu, dan jadilah seorang majikan atas dirimu sendiri dan bukan sebaliknya! Intisari kebijaksanaan yang diajarkan oleh filsuf Sokrates adalah kata-kata yang berbunyi, “Kenalilah dirimu sendiri!” Intisari dari kebijaksanaan Hindu adalah, “Kuasailah dirimu sendiri!” Sedangkan Pythagoras yang terkenal itu pernah berkata, “Tidak ada seorang pun yang dapat disebut merdeka (bebas) yang tak dapat memerintah atas dirinya sendiri!”
6)  Pengorbanan, persembahan (yagna), jenis yagna atau pengorbanan ini ada banyak caranya. Persembahan spiritual ini didasarkan pada pemikiran bahwa dewa-dewa, manusia, dan makhluk-makhluk halus, semua ini membentuk suatu simfoni kehidupan. Yagna menunjukkan suatu itikad berkorban atau menolong sesama makhluk di dunia ini baik yang terlihat maupun yang tak terlihat, yang membutuhkan pertolongan kita di alamnya masing-masing. Yagna juga mengajarkan kita untuk menjadi sederhana dan tulus dalam hidup kita sewaktu kita melakukan yagna ini untuk para dewa, dan mengajarkan kita akan kewajiban dan perhatian kita pada para leluhur kita agar mereka tak terlupakan. Karena karma yang lalu para leluhur yang berada di alam sana hidupnya belum tentu bahagia, jadi mereka selalu saja membutuhkan pertolongan kita agar kuranglah dosa-dosa mereka. Pada hakikatnya yagna ini secara bertahap mengajarkan kita untuk berkewajiban dan berkorban secara murni kepada Yang Maha Esa. Untuk itu kita harus belajar dahulu dengan ber-yagna untuk para dewa dan leluhur. Intisari sesungguhnya dari yagna ini adalah berkoban secara tulus dengan mengorbankan seluruh hidup kita ini kepadaNya tanpa pamrih, yaitu bekerja demi Ia semata tanpa pamrih dan tanpa bosan-bosannya!
7)    Mempelajari skripsi-skripsi atau ajaran-ajaran suci (ini disebut Svadhaya).
Terangkan dalam ajaran-ajaran ini adalah pemujaan oral (puja-puji dan nyanyian) kepada Yang Maha Esa pada setiap kesempatan yang ada.
8)   Tapa atau tindakan-tindakan disiplin spiritual yang aneka ragam bentuknya seperti puasa, meditasi, dan berbagai tindakan disiplin spiritual lainnya. Intisari dari tapa ini adalah selalu berusaha untuk tidak berbohong kepada diri sendiri maupun orang lain, jadi setiap pembicaraan harus benar dan jujur, mencintai kebenaran dan kehidupan yang jauh dari kemewahan.
9)    Menjunjung tinggi kebenaran, tegas dan tulus dalam tindakan (arjavam). Mereka yang memiliki sifat-sifat yang suci dan agung selalu berkata dan bertindak tegas dalam setiap aspek kehidupan mereka, tetapi jiwa mereka sebenamya amatlah lembut, tulus dan jujur akan kebenaran. Inilah sebenarnya yang mendasari tindakan dan ucapan mereka yang tegas. Mereka juga amat tinggi dalam menjunjung nilai-nilai kebenaran walaupun untuk hal-hal yang amat kecil sekalipun.

Page 2 of 5
10) Mereka menjalankan praktek-praktek ahimsa, yaitu tidak menyakiti seseorang atau makhluk lainnya baik dalam tindakan mereka atau kata-kata mereka. Di dunia yang penuh dengan manusia-manusia yang berwajah srigala ini, masih ada saja manusia-manusia tulus dan suci yang melakukan ahimsa ini secara total. Inilah salah satu ciri khas dari yang memiliki potensi suci dan agung ini. Tetapi ingat jangan salah-pergunakan mereka ini, karena demi kebenaran mereka ini adalah manusia yang amat tegas!
11) Mereka mempraktekkan kebenaran (safram) dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menampakkan diri mereka sebagaimana yang mereka sadari akan arti kehidupan ini, dan juga akan arti dan hakikat Yang Maha Esa. Bagi mereka apapun yang benar dibenarkan dan yang salah disalahkan tanpa memandang kasta, kedudukan dan harta. Bagi mereka kebenaran itu sekecil apapun kebenaran itu, maka sifatnya adalah di atas segala-galanya. Bagi mereka seorang yang lahir dengan predikat kasta pariah bukanlah seorang pariah, tetapi seseorang yang tak dapat menghormati kata-katanya adalah seorang pariah. Tuhan Yesus sendiri pernah berkata, “Kebenaran akan membuatmu bebas!” “Kebenaran dan kasih adalah bagi kami arti sesungguhnya dari Tuhan Yang Maha Esa,” kata TL Vaswani, pengarang naskah Bhagavat Gita.
12) Orang-orang ini tak mempunyai rasa marah atau geram (akrodhd). Mereka bahkan tak pernah marah atau benci pada yang menyakiti mereka walaupun dipancing untuk marah sekalipun.
13) Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang telah melakukan dan menghayati penyerahan total akan hasil tindakan mereka sehari-hari (tyaga) yang dapat dijabarkan sebagai berikut:
(a) penyerahan total secara mental dan dari pemikiran mereka bahwa apa yang mereka lakukan dan apapun hasilnya adalah kehendak Yang Maha Esa semata-mata dan seyogyanyalah dilakukan tanpa pamrih,
(b) setiap tindakan mereka jauh dari rasa keberhasilan, egoisme, optimisme, pesimisme, keserakahan, nafsu dan keinginan,
(c) mereka jauh dari obyek-obyek duniawi.
14)  Pikiran dan jiwa mereka selalu tenang (shanti) dalam segala tindakan mereka sehari-harinya.
15)  Mereka jauh dari segala gosip atau obrolan-obrolan iseng yang menyangkut orang lain. Jauh juga mereka ini dari segala pikiran dan pembicaraan mengenai orang lain atau mencela orang lain dan mencari-cari kesalahan seseorang. Mereka tak mau menyakiti atau mencelakakan orang atau makhluk lain baik secara mental maupun secara tindakan.
16)  Mereka memiliki rasa kasihan, iba, simpati dan rasa sayang untuk setiap makhluk di dunia ini.
17)  Mereka selalu merasa cukup dengan apa adanya, dan tak pernah memohon atau meminta lebih apapun yang diterima mereka. “manusia ini tak pernah puas, walaupun memiliki sebuah danau penuh dengan emas, tetapi masih saja merasa miskin,” kata Hitopadesha. Tetapi mereka-mereka ini yang telah terpanggil ke jalannya Tuhan, malahan amat puas dengan apa adanya. Bagi mereka alam semesta dan seluruh isinya sudah merupakan karunia yang tak ada habis-habisnya. Lalu untuk apa harus serakah dan menuntut dan menuntut lagi?
Feridoun merasa tak puas dengan kerajaan yang dimilikinya. Sedangkan Alexander meratap telah menguasai semuanya karena tidak ada lagi yang bisa dikuasainya. Tetapi seorang anak kecil yang polos dan lugu akan gembira sekali dan bahagia kalau dapat memenuhi kedua tangannya dengan pasir dan bermain-main dengannya. Bagi seorang anak kecil yang masih polos akan hal-hal duniawi ini, maka segenggam pasir dan segenggam emas sama saja nilainya, karena ia masih suci dan tidak sadar akan standar-standar yang telah ditentukan oleh manusia dewasa.
Setiap pekerjaan itu baik, karena pekerjaan itu diperlukan dan karena merupakan bagian terpenting dalam kehidupan kita. Tetapi ingatlah pekerjaan yang tak diperlukan dan sia-sia janganlah dilakukan dan jauhilah pekerjaan-pekerjaan ini yang sifatnya negatif dan merusak. Pekerjaan atau profesi sehari-hari diperlukan dan wajib kita kerjakan tetapi disertai dengan itikad yang murni dan suci dan dilandasi oleh rasa bakti kita kepada Yang Maha Esa, kepada masyarakat dan lingkungan kita, bukan atas keserakahan pribadi atau dilandasi oleh kepentingan-kepentingan duniawi. Sebuah pekerjaan yang sederhana sifatnya akan lebih berarti daripada suatu pekerjaan yang nampaknya canggih, selama pekerjaan itu dikerjakan dengan penuh bakti dan kesadaran yang tulus akan dharma-bhakti kita kepada Yang Maha Esa. Suatu pekerjaan yang dianggap besar dan luar biasa akan sia-sia saja maknanya kalau dilandasi oleh nafsu dan kepentingan duniawi karena yang timbul darinya hanyalah ambisi dan perjuangan pribadi dan terjebaklah sang pelaku dalam nafsu-nafsu duniawinya dan segala ekses-ekses yang timbul dari nafsu itu. Sebaliknya suatu pekerjaan yang sederhana sifatnya seperti memasak dan menyapu akan terasa suci dan syahdu kalau dilakukan dengan kesadaran total bahwa itu juga merupakan kewajiban kita kepadaNya, karena akan turun berkat dan rahmatNya pada si pelaku pekerjaan ini. Yang Maha Esa tidak memandang kedudukan atau pekerjaan seseorang, yang dianjurkanNya adalah kesetiaan dan dedikasi kita kepadanya yang tulus dan tidak ternoda.
18) Mereka-mereka ini memiliki kelembutan hati dan pikiran. Mereka ini amat penyabar dan pengasih, dan selalu menerima dan sabar menghadapi segala caci-maki, hinaan, pengkhianatan, dan tindakan-tindakan keji yang dilakukan oleh orang-orang terhadap mereka, karena mereka sadar bahwa yang menyakiti mereka ini sebenarnya tidak tahu apa-apa dan “kurang pengetahuannya atau tersesat jalannya.” Sebaliknya mereka jadi amat pemaaf dan selalu mendoakan mereka yang menyakiti ini.
19) Mereka-mereka ini amat sederhana dan pemalu sifatnya. Malu akan berbuat sesuatu yang salah karena yakin akan kehadiran Yang Maha Esa di mana-mana.

 

20) Mereka-mereka ini adalah orang-orang yang tidak mudah mengubah keputusan atau pemikiran mereka, tidak mudah terpengaruh dan sangat stabil pendiriannya. Mereka tak mau mencampuri urusan orang lain dan jauh dari pikiran maupun tindakan yang tak ada artinya.
21) Mereka memiliki teja, yaitu energi, cahaya dan kharisma yang luar biasa dan penuh dengan kehangatan. Wajah-wajah mereka selalu simpatik dan memancarkan cahaya kesucian dan kebaikan, ketulusan hati yang luar biasa. Sang Kreshna, Sang Buddha dan Kristus memiliki wajah-wajah semacam ini. Salah satu ciri-ciri teja ini adalah rasa respek yang luar biasa yang dimiliki oleh orang ini, dan juga kejantanan (ketegasan) dalam setiap aspek tindak-tinduknya yang tak dapat ditawar-tawar. Contoh: Sokrates dari Yunani, yang tidak mau mundur dari pendiriannya dan lebih baik memilih kematian dengan meminum racun secara tenang.
22) Mereka adalah manusia atau orang-orang yang memiliki rasa memaafkan terhadap semua dan sesamanya secara luar biasa. Tak ada kebencian di dalam diri mereka walaupun untuk mereka yang telah mencoba menyakiti atau membunuh mereka. Nabi Muhamaad SAW memaafkan musuh-musuhnya. Kristus memaafkan musuh-musuh dan murid-muridnya. Mahatma Gandhi memaafkan pembunuhnya dan jauh-jauh telah meramalkan akan dibunuh. Resi Dayanand memaafkan tukang masaknya yang berusaha meracuni sang Resi. Di era modern ini kita melihat Sri Paus Yohannes Paulus II memaafkan penembaknya.
23) Mereka memiliki kekuatan luar biasa untuk menghadapi segala rintangan dan penderitaan hidup ini, dan tidak kehilangan kesabaran (ini disebut dhriti).
24) Mereka memiliki rasa sancham, yaitu rasa akan kebersihan. Mereka selalu menjaga agar raga mereka bersih luar dan dalam. Kebersihan sebenarnya adalah salah satu aspek yang penting dalam agama dan mendekatkan kita kepadaNya. Pada masa sekarang manusia cenderung untuk mementingkan peragaan di luar tubuh mereka seperti rias-wajah, wangi-wangian, busana yang menyolok dan lain sebagainya. Juga banyak diantara kita yang mengotori tubuh bagian dalam kita dengan merokok, menghisap ganja dan meminum minuman keras, obat-obatan terlarang dan makanan yang merangsang rubuh. Juga manusia dewasa ini lebih cenderung mengkonsumsi makanan yang tidak segar dan penuh dengan zat-zat yang mengotori dan membahayakan tubuh dari pada menyehatkan tubuh ini dengan memakan buah-buahan dan sayur-sayuran segar, menghisap udara segar dan lain sebagainya.
25) Mereka bebas dari rasa iri-hati atau cemburu. Mereka tak mau berperasangka buruk atau iri-hati pada orang lain atau bahkan berpikir negatif tentang orang lain. Mereka cukup dengan apapun yang mereka terima dan selalu berterima kasih kepadaNya. Melihat sukses dan kekayaan orang lain mereka biasa-biasa saja dan tak terpengaruh sama sekali. Mereka tak dapat melupakan kebaikan orang lain terhadap mereka walau sekecil apapun kebaikan itu. Mereka selalu mengabdi demi kebaikan dan kesejahteraan orang lain baik yang membutuhkan mereka atau tidak, dan menyatu dalam jiwa dengan yang mereka tolong ini. Rasa benci dan iri-hati dapat menghancurkan bukan saja kebahagiaan seseorang tetapi juga menghancurkan kerajaan-kerajaan besar. Lihat saja bagaimana iri-hati sang Kaikeyi (ibu-tiri sang Rama) membunuh suaminya dan sekaligus menghantarkan Sang Rama dan Shinta beserta Lesmana ke hutan Dandaka. Iri-hati dan benci, atau dengki adalah sebenarnya perusak diri dan hidup kita sendiri.
26) Mereka tidak memiliki rasa sombong atau superior terhadap orang lain. Rasa sombong atau ahankara ini memang salah satu faktor yang harus dijauhi setiap manusia, atau tersandung kita nanti dalam perjalanan hidup spiritual kita.
Kedua-puluh enam faktor atau ciri-ciri khas seseorang yang telah suci hati dan jiwanya ini disebut daivi-sampad, yaitu harta-benda sejati seseorang yang suci dan    agung, harta Ilahi yang benar dalam melakukan kehidupan yang sejati.
4. Kemunafikan, mementingkan diri sendiri, iri-hati, rasa amarah, juga kekasaran dalam pembicaraan dan kebodohan — semua ini, oh Arjuna, adalah milik seseorang yang lahir dengan sifat-sifat iblis.
Siapakah manusia-manusia yang disebut bersifat sebagai atau bagaikan iblis ini? Mereka disebut Asura. Dalam salah satu Upanishad terdapat satu kisah mengenai Prajapati yang pada waktu penciptaan, menciptakan para dewa (sura) dengan nafas yang dihembuskannya ke atas, dan menciptakan para asura (raksasa, setan, jin, iblis, dan kuasa-kuasa gelap) dengan nafasnya yang dihembuskannya ke bawah. Setelah menciptakan para iblis ini maka terciptalah kegelapan, kebodohan dan keburukan di sekitarnya. Maka disebut bahwa nafas-bawah tadi adalah nafas dari segala nafsu yang negatif dan kebatilan, sedangkan nafas-atas adalah nafas dari segala yang baik, agung dan suci. Nafsu dengan begitu adalah faktor atau hal-hal yang tidak suci di dalam dunia ini, karena ia adalah getaran atau vibrasi dari ‘jiwa-bawah’ kita sedangkan ‘jiwa-atas’ kita penuh dengan kebajikan dan kesucian. Dengan kata lain, manusia-manusia yang bersifat asura adalah mereka yang terikat secara duniawi dengan nafsu-nafsu mereka dan selalu tenggelam dalam kebodohan mereka. Terikatlah selalu mereka ini dengan dunia dan dengan kelahiran/kematian yang berkelanjutan terus-menerus.

Karakter atau ciri-ciri khas mereka ini adalah:
(a) Kemunafikan — apa yang mereka tampilkan dalam tindak-tanduk mereka sehari-hari dalam kehidupan mereka penuh dengan sandiwara, kepalsuan dan topeng-topeng manis belaka, padahal hati dan jiwa mereka mungkin terikat pada pikiran dan tindakan-tindakan yang tidak sehat dan selaras dengan topeng-topeng kemunafikan mereka.
b) Dalam setiap hal, mereka selalu mementingkan diri mereka sendiri. Mereka ini juga penuh dengan rasa iri-hati dan terbius oleh harta-benda, milik, kekasih dan kekuasaan mereka.
(c)  Mereka ini mudah sekali marah.
(d) Tindak-tanduk mereka maupun cara mereka berbicara mencerminkan kekasaran dan amat menyakitkan bagi yang mendengarkan.
(e) Mereka-mereka ini jauh dari kebenaran dan kebijaksanaan yang sejati.
5. Sifat-sifat suci menuntun seseorang ke arah pembebasan, dan sifat-sifat iblis ke arah keterikatan. Janganlah bersedih, oh Arjuna, karena dikau lahir dengan sifat-sifat yang suci dan agung.
6. Ada dua jenis makhluk yang diciptakan di dunia ini — yang suci dan yang bersifat iblis. Yang suci telah dijelaskan secara terperinci. Sekarang dengarkanlah dariKu, oh Arjuna, mengenai yang bersifat keiblisan ini.
Dua jenis makhluk hidup atau manusia atau makhluk halus diciptakan oleh Yang Maha Kuasa di dunia ini, yaitu yang bersifat suci seperti yang telah kita baca di atas tadi, dan yang bersifat ke iblis-iblisan. Yang pertama karena dasar sifat-sifatnya telah bebas dan lepas dari karma-karmanya dan dari kehidupan/kematian, untuk kemudian langsung bersatu dengan Sang Pencipta, sedangkan yang kedua akan terikat secara terus-menerus dengan karma-karmanya dan kehidupan dan kematian, tak bisa lepas dari dunia ini.
7. Mereka-mereka yang bersifat iblis ini tidak sadar akan arti tindakan atau akan disiplin-disiplin spiritual. Tak mereka miliki kesucian maupun tindakan-tindakan baik atau pun kebenaran.
8. Mereka berkata bahwa di dunia ini tak ada kebenaran, tak ada dasar moral, tak ada Tuhan, (dunia) ini tercipta dari penyatuan dua jenis kelamin yang berlawanan, (dunia) ini adalah produk dari nafsu-nafsu belaka dan tak ada hal selain itu.
9. Teguh dalam kepercayaan ini, jiwa-jiwa yang tersesat ini yang pengertiannya tumpul dan tindakan-tindakannya kejam, muncul sebagai musuh-musuh dan penghancur dunia ini.

 

10. Menyerahkan diri mereka kepada nafsu-nafsu yang tak pernah terpuaskan dengan kemunafikan, kedengkian, dan kepentingan diri-pribadi, tergantung pada ide-ide yang salah akibat ilusi, mereka ini bertindak dengan itikad-itikad yang tidak bersih.


11. (Mereka) ini terkurung oleh kekhawatiran-kekhawatiran yang tak terhitung jumlahnya, (mereka) berpikir bahwa pemuasan nafsu-nafsu dan keinginan sebagai puncak cita-cita mereka, yakin bahwa itulah semua ini.


12. Terperangkap oleh seratus harapan-harapan kosong, menjadi budak dari nafsu dan kemarahan, mereka menumpuk kekayaan dengan memuaskan selera-selera panas (mereka) dan melibatkan diri (mereka) dalam kenikmatan-kenikmatan sensual.


13. ”Ini telah kudapatkan hari ini, dan akan kucapai keinginan itu. Harta ini milikku, harta itu pun akan menjadi milikku.


14. ”Musuh ini telah kubunuh, yang lainnya pun akan kubunuh. Aku lah Tuhan dari segalanya. Aku menikmati diriku sendiri. Aku makmur, berkuasa dan bahagia.


15. ”Aku kaya-raya dan lahir dari derajat yang tinggi.
Adakah seseorang yang sepadan denganku? Aku akan menyelenggarakan pengorbanan-pengorbanan (yagna), aku akan menyumbangkan dana, aku akan membuat “pesta-pesta kesenangan.”   Begitulah mereka berkata, tersesat dalam kebodohan mereka.


16. Kacau-balau oleh berbagai pikiran, terperangkap dalam jala ilusi, terbius oleh kepuasan nafsu-nafsu, mereka tenggelam ke neraka yang menjijikkan (penuh dengan kotoran yang berbau dan menjijikkan).


17. Terlalu percaya pada diri-sendiri, keras-kepala, mabuk-kepayang akan kekayaan mereka, mereka melakukan pengorbanan-pengorbanan untuk pertunjukan belaka, tanpa memperhatikan skripsi-skripsi (suci).


18. Terpaku pada rasa ego, pada kekasaran dan kekuatan, dan nafsu-nafsu dan rasa marah, orang-orang yang berhati iblis ini membenciKu yang bersemayam di dalam raga mereka dan di dalam raga-raga yang lainnya.


19. Mereka yang membenciKu dengan cara itu, mereka yang kejam ini, yang terburuk diantara jajaran manusia, mereka-mereka pelaku perbuatan iblis ini, Ku giring terus-menerus ke perut para iblis.

20. Terjatuh ke perut-perut iblis, mereka hidup dari satu kehidupan ke kehidupan yang lainnya, terbungkus oleh kegelapan. Mereka ini tidak datang kepadaKu, oh Arjuna, tetapi tenggelam ke tempat yang paling dalam.
Mereka-mereka yang memiliki asuri-sampad (sifat-sifat keiblisan) dan terikat kepada dunia ini mempunyai ciri-ciri khas seperti berikut:
a.  Mereka kurang memiliki rasa perbedaan antara yang baik dan buruk. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan dan seharusnya tidak dilakukan.
b. Tidak atau kurang memiliki rasa kebersihan. Mereka tidak bersih dalam pikiran maupun dalam menjaga raga mereka.
c.  Mereka tidak kenal atau tidak mau kenal atau mengakui kaidah-kaidah moral atau hukum-hukum moral dan etika dalam kehidupan ini.
d.  Mereka jauh dari kebenaran. Mereka penuh dengan kebohongan dan tipu-daya.
e. Mereka ini umumnya atheis. Bagi mereka alam semesta atau dunia ini tidak berdasarkan moral, agama atau dasar-dasar spiritual, tanpa Sang Pencipta atau Tuhan Yang Maha Esa. Bagi mereka dunia ini hanya tempat melampiaskan nafsu-nafsu, dan pikir mereka semua makhluk tercipta dari kesatuan atau percampuran pria dan wanita, jadi dasar dunia ini bagi mereka adalah nafsu-nafsu dan kenikmatan duniawi belaka. Itulah hidup dan tujuan mereka dalam hidup ini.
f.  Cara berpikir mereka penuh dengan kegelapan, karena jiwa mereka telah sesat. Akibatnya daya intelektual mereka menurun.
g.  Mereka gemar melakukan pekerjaan-pekerjaan buruk dan keji yang berada di luar prikemanusiaan. Hidup mereka adalah demi penghancuran sesamanya, atau makhluk-makhluk lain. Sebenarnya mereka ini adalah musuh dari dunia dan umat manusia itu sendiri.
h. Kata mereka dunia ini hanya untuk bersenang-senang saja, dan mereka memasrahkan hidup mereka ke nafsu-nafsu dan kenikmatan yang tak ada habis-habisnya. Hidup mereka hanya itu dan tak lebih.
i.  Mereka adalah orang-orang yang munafik. Untuk mendapatkan suatu impresi atau keperluan sesuatu, tidak segan-segan mereka menampilkan wajah-wajah yang lain agar tercapai segala maksud-maksud mereka.
j.   Mereka penuh dengan kesombongan
k.  Dalam   kebutaan  pikiran,  mereka memegang  erat-erat prinsip hidup yang salah. Contoh: Sang Rahvana yang berpikir tidak ada salahnya mencuri istri orang lain demi kepuasannya pribadi.
1.  Sampai matipun mereka tidak lepas dari rasa khawatir dan ketakutan yang tak ada habis-habisnya (berbagai ragam sifat-sifat ketakutan).
m. Motto hidup  mereka adalah  kenikmatan, dan itulah tujuan mereka yang tertinggi.
n.  Mereka gemar   akan perbuatan-perbuatan amoral yang penuh dengan nafsu dan dosa.
o.  Mereka  gemar amarah.  Selalu murka bahkan hal-hal yang kecilpun mudah menimbulkan rasa amarah mereka.
p.  Mereka mengumpulkan harta-benda mereka secara tidak halal.
q.  Rasa egoisme mereka amat tinggi. Tidak ada yang tidak dikaitkan dengan “ke-aku-.  an”-nya. “Aku ini yang perkasa, yang berkuasa, berkedudukan, tanpa aku pemerintahan ini tidak jalan, atau perkerjaan ini tidak terselesaikan. Aku tak ada tandingannya, yang paling hebat dan super dan terkaya,” dan lain sebagainya. Mereka ini juga takabur dan sering berkata, “aku ini Tuhan, aku tak pernah sakit, aku tak bisa mati,” dan lain sebagainya. Makin lama rasa ego dan keserakahannya makin bertambah dan ia makin sering membunuh orang-orang yang dianggapnya musuh karena ia merasa amat berkuasa dan tak punya tandingan. Demi nama baik mereka, orang-orang ini tidak segan-segan menyelenggarakan kegiatan-kegiatan sosial yagna dan dana, yang sebenarnya hanya kedok belaka, hanya sandiwara untuk tujuan-tujuan tertentu.
r.  Jalan pikiran mereka tak pernah stabil.
s. Mereka terjebak dalam perangkap atau jalan ketersesatan (kegelapan). Duniawi lebih penting bagi mereka daripada Ilahi.
t.  Mereka membenci Tuhan Yang Maha Esa yang bersemayam di dalam diri mereka dan dalam diri orang-orang lain.
Orang-orang yang bersifat iblis ini secara terus-menerus berkelana dalam lingkaran karma dan lingkaran hidup-mati, dan lahir kembali di tengah-tengah keluarga yang tak bermoral dan penuh dengan kegelapan. Makin lama makin turunlah taraf kehidupan mereka dan oleh karma mereka dibawa tenggelam ke arah kehidupan yang makin rendah tarafnya.
Tetapi Yang Maha Pengasih selalu memberikan kesempatan kepada mereka-mereka ini, yaitu pembersihan diri melalui berbagai penderitaan dan kesempatan-kesempatan dalam tahap-tahap evolusi kehidupan mereka ini, karena di dalam setiap jiwa yang sesat pun bersemayam Sang Atman, Sang Kreshna, Sang Adhyatman Yang Maha Pengasih dan Penyayang, Yang tidak akan segan-segannya menunjukkan jalan kepada semua makhluk-makhlukNya. Dan lambat laun jiwa-jiwa yang menderita dan tersesat ini akan tergugah juga memohon Yang Maha Kuasa agar dibebaskan dari penderitaan dan karma mereka. Dan kalau sudah tiba saatnya yang tepat, maka Yang Maha Esa pun akan menjatuhkan berkahNya kepada makhluk atau individu ini dan terbukalah jalan ke arahNya lagi, dan suatu saat mereka-mereka ini pun akan dapat mengalahkan nafsu-nafsu duniawi mereka dan lepas dari dunia yang penuh dengan penderitaan ini, menyatu denganNya, Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Om Tat Sat.
Maka, kalau sudah merasa suci atau bersih janganlah sekali-kali memandang rendah atau hina kepada mereka yang berdosa atau pada makhluk-makhluk yang tak berdaya, tetapi selalulah menuntun mereka-mereka ini ke jalan yang benar dengan kasih-sayang yang sejati. Maafkanlah dosa-dosa mereka seperti yang dilakukan oleh Yang Maha Kuasa terhadap kita juga. Sebenarnya tidak ada seseorang pun yang berdosa di dunia ini, yang ada hanyalah orang-orang yang kurang pengetahuannya dan tidak sadar, tersesat oleh kenikmatan duniawi. Jadi tuntunlah selalu mereka-mereka ini. Yesus Kristus pernah bersabda, “Tidak ada yang baik selain Tuhan.” Memang benar, hanya Ia Yang Maha Baik, kita manusia harus selalu belajar untuk menjadi baik dan benar agar diterima oleh Yang Maha Baik ini. Seorang yang suci dan agung, seandainya tidak lagi terpakai oleh Yang Maha Kuasa maka ia pasti akan menjadi sampah lagi, tetapi seorang asura yang menjijikkan akan menjadi suci, sekali Yang Maha Esa berkenan mengubahnya. Camkanlah hal ini dan jauhikan diri kita dari rasa jijik, diskriminasi, perbedaan kasta dan derajat. Pandanglah setiap manusia dan makhluk dengan pandangan yang sama, ingat Yang Maha Esa hadir di mana-mana dan dalam setiap makhluk, dan la tidak mengenal diskriminasi, maka seharusnya kita pun bersikap sama. Yang Maha Esa bisa saja mengubah status seseorang sesuai dengan kehendakNya, maka jangan sekali-kali pongah atau tinggi hati terhadap seseorang atau dalam suatu situasi tertentu.

 

21. Terdapat tiga gerbang untuk menuju ke neraka ini, yang menjadi penghancur dari diri sendiri — nafsu, kemarahan dan keserakahan. Maka seyogyanyalah manusia membuang jauh-jauh ketiga faktor ini.


22. Seseorang yang telah lepas dari ketiga gerbang kegelapan ini, oh Arjuna, maka telah selesailah semua kebutuhan-kebutuhannya dan kemudian (ia) mencapai tujuan yang tertinggi.
Ada tiga pintu gerbang kegelapan, yang diartikan juga sebagai tiga pintu masuk utama ke neraka, yaitu nafsu, rasa amarah dan keserakahan atau rasa iri. Nafsu (kama) atau keinginan yang beraneka-ragam ini sebenarnya adalah pemuasan membabi-buta untuk indra-indra kita. Sedangkan rasa amarah timbul kalau jalan ke arah pemuasan nafsu-nafsu ini terhalang. Keserakahan atau lobha adalah salah satu nafsu untuk memperkaya diri sendiri dengan obyek-obyek duniawi baik secara material maupun secara psikologis dan demi memenuhi nafsu indra-indra dan pribadi. Raga kita sebenarnya diciptakan agar menjadi instrumen atau alat yang dapat memenuhi kebutuhan akan potensi spiritual kita, agar tercapai kembali kesatuan antara kita dan Sang Pencipta. Tetapi kalau diberikan kebebasan dan fasilitas untuk memilih sendiri tujuan kita, maka banyak manusia akan tersesat dan menggunakan raga mereka demi tujuan nafsu-nafsu belaka, tanpa sadar bahwa di dalam tubuh dan otak kita tersimpan potensi spiritual yang amat luarbiasa yang sekiranya digunakan secara benar akan menimbulkan keajaiban-keajaiban dan keadaan yang memungkinkan kita mencapai Yang Maha Esa dengan lebih sempurna lagi. Faktor potensial ini sering lepas dari jangkauan manusia dan kita melaju makin dalam ke arah kegelapan yang tak ada ujung-ujungnya, mengembara dari satu neraka ke neraka yang lainnya, tanpa akhir.
Dunia dan isinya ini sebenarnya diartikan sebagai ekspresi dari kesucian dan keagungan Yang Maha Esa, dari cinta-kasih dan saling-menolong atau menunjang diantara sesamanya, agar tercapai kedamaian, keharmonisan dan kehidupan yang layak bagi semuanya. Tetapi kalau semua potensi dan kekayaan alam semesta ini dipakai manusia hanya untuk memuaskan pribadi-pribadi manusia-manusia itu sendiri, dan manusia itu kemudian mengabaikan semua kebahagian, keagungan dan kekayaan yang telah disediakan Yang Maha Kuasa, maka tak ada jalan lain, silahkan menuju ke arah neraka yang paling dalam. Selama manusia mengeksploitasi nafsu-nafsu dan dirinya sendiri, merusak alam dan makhluk lain sesamanya dengan nafsu-nafsu ini maka selama itu pula manusia ini akan menjurus kelingkaran setan yang tak ada habis-habisnya.
Dan ingatlah seandainya anda berjalan di jalan nafsu dan keserakahan maka anda akan menghadapi oposisi dari pihak yang lain, karena anda sedang berjalan di jalan yang salah. Jalan salah ini berarti anda sedang melawan Hukum Abadi yang hadir di alam semesta ini, yang tak nampak tetapi selalu ada dan berkuasa.    Dan sekali atau terus-menerus anda mendapatkan perlawanan ini, maka anda akan meledak dengan kemarahan yang dahsyat, anda akan membenci dan secara brutal menyerang mereka-mereka yang beroposisi terhadap anda. Selama itu anda boleh yakin bahwa anda sedang diikat erat-erat oleh keterikatan duniawi ini, dan itu berarti anda sedang melaju cepat ke neraka yang dalam.
23. Seseorang yang telah mengabaikan shastra-vidhi (kaidah-kaidah suci yang terdapat di skripsi-skripsi suci agama Hindu), mengikuti dorongan-dorongan nafsu — maka orang ini tidak mencapai kesempurnaan, tidak juga kebahagiaan yang benar, tidak juga tujuan yang tertinggi.


24. Maka seyogyanyalah, jadikanlah kaidah suci ini sebagai pedoman untuk mengambil sesuatu putusan tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tak harus dilakukan. Sadar akan apa yang telah disabdakan oleh kaidah-kaidah suci ini, bekerjalah dikau, oh Arjuna, pekerjaanmu di dunia ini.
Agar jauh dari gerbang-gerbang kegelapan ini, maka seyogyanyalah manusia menjauhi dan mengendalikan diri mereka dari semua nafsu-nafsu dan berpedoman pada skripsi-skripsi suci yang memuat hukum atau kaidah suci bagi kesejahteraan manusia. Hukum atau kaidah suci yang dikandung oleh kitab-kitab (shastrci) suci Hindu semenjak masa silam adalah sumber pengetahuan yang suci dan agung yang tak ada habis-habisnya, dan merupakan penerangan di jalan kegelapan kita. Dengan kata lain, tidak usah jauh-jauh mencari sumber kaidah atau hukum suci ini, Bhagavat Gita adalah intisari dari semua Veda-Veda yang ibarat sebuah sumur yang tak pernah sarat airnya kalau kita ingin berbicara tentang kaidah-kaidah suci dari agama Hindu ini. Berpedoman pada ajaran Bhagavat Gita manusia akan lepas dari keterikatan-keterikatan duniawinya secara tuntas, kalau mau kita betul-betul menghayati ajaran dan sabda-sabda Sang Kreshna, seperti sloka di atas, “sadar akan apa yang telah disabdakan oleh kaidah-kaidah suci ini, bekerjalah dikau, oh Arjuna, pekerjaanmu di dunia ini.” Yang Maha Esa tidak melarang kita bekerja. Ia malahan menganjurkannya dengan jalan yang benar bekerja tanpa pamrih demi Ia semata. Sadarlah akan hal ini wahai manusia, kebahagiaan akan kehidupan ini dan Yang Maha Esa itu sendiri sebenarnya ada diantara kita-kita ini juga, Mengapa melangkah jauh-jauh dari ini semua? Om Tat Sat.Dalam Upanishad Bhagavat Gita, Ilmu Pengetahuan Yang Abadi, Karya-Sastra Yoga, dialog antara Sang Kreshna dan Arjuna, bab ini adalah bab yang keenam-belas yang disebut: Daivasura Sampad Vibhaga Yoga atau Ilmu Pengetahuan tentang Perbedaan antara Sifat Yang Suci dan Sifat Iblis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s