TEKNIK PENGAMBILAN KEPUTUSAN SECARA ILMIAH DITINJAU DARI PANDANGAN HINDU

Print E-mail

Imagesamano mantrah samitih samani
samanam manah saha cittam esam.
samanam mantra abhi mantraye vah,
samanena vo havisa juhomi

samani vah akutih samana hrdayani vah,
samanam astu vo mano yatha vah susahasati
Rgveda X.l91. 3- 4.

 

Oh umat manusia, hendaknya engkau berpikir bersama-sama.
Bermusyawarahlah engkau bersama. Hendaknya hati dan
pikiranmu menyatu. Aku memberikan persamaan cita-cita
dan tujuan yang sama telah kugariskan padamu.

Oh umat manusia, majulah kamu dalam satu tujuan yang sama,

Oh umat manusia, hendaknya engkau berpikir bersama-sama.
Bermusyawarahlah engkau bersama. Hendaknya hati dan
pikiranmu menyatu. Aku memberikan persamaan cita-cita
dan tujuan yang sama telah kugariskan padamu.

Oh umat manusia, majulah kamu dalam satu tujuan yang s

hendaknya kamu memiliki saling pengertian di antara kamu,
dengan demikian engkau akan mencapai tujuan yang sama.
Mantra Veda di atas adalah mantram terakhir dari kitab Rgveda, merupakan kesimpulan dari wahyu Tuhan Yang Mahaesa dalam usaha mewujudkan satu cita-cita bersama dalam suasana keharmonisan, sebab hakekatnya manusia adalah bersaudara, Vasudaiva Kutumbakam, semua makhluk adalah bersaudara. Persaudaraan umat manusia ini disebabkan oleh satu asal dan kembalinya bagi setiap makhluk dan alam semesta, sama-sama menikmati hidup dan kehidupan di haribaan bumi pertiwi tercinta, oleh karena itu Tuhan Yang Mahaesa, Sang Hyang Vidhi mengamanatkankan kepada kita untuk hidup dalam suasana damai penuh kebahagiaan dalam persaudaraan yang sejati.

Untuk memahami cara mengambil keputusan, maka terlebih dahulu kami petikkan sumber hukum Hindu sebagai landasan di dalam memecahkan berbagai permasalahan yang menyangkut kehidupan material dan spiritual. Di dalam Manavadharmasastra yang merupakan kompedium hukum Hindu dijelaskan tentang urutan atau kedudukan sumber hukum Hindu, sebagai berikut :
____________________________________
*Makalah ini dibawakan dalam acara Dharmatula(Diskusi) Keluarga Besar Mahasiswa Hindu Dharma (KBMHD) Universitas Pendidikan Nasional Denpasar, Hari Jumat,tanggal 16 Desember 1994, Jam : 17.30 WITA bertempat di Auditorium Universitas Pendidikan Nasional Denpasar.

idanim dharma pramanananya ha, vedo’
khilo dharmamulam smrtisile cas tadvidam,
acaras caiva sadhunam atma tustireva ca.

Manavadharmasastra II.6.

(Seluruh pustaka suci Veda (Sruti) adalah sumber pertama dari pada
Dharma, kemudian kitab-kitab hukum/Undang-Undang (Smrti), lalu
tingkah laku yang terpuji dari orang – orang budiman yang mendalami
Veda, adat – istiadat, juga kebiasaan suci dan akhirnya kepuasan diri
sendiri).

Berdasarkan kutipan tersebut di atas dapat dirinci sumber – sumber hukum Hindu dari yang tertinggi dan bersifat absolut, karena merupakan wahyu Tuhan Yang Mahaesa sampai yang merupakan kesepakatan bersama, yaitu :

l. Sruti, kitab suci Veda yang merupakan wahyu Tuhan Yang Mahaesa yang terdiri dari :
Rgveda, Yajurveda, Samaveda dan Atharvaveda. Dalam pengertian yang lebih luas juga
termasuk kitab – kitab Sruti adalah Brahmana, Aranyaka dan Upanisad, semuanya itu
merupakan sumber hukum Hindu yang tertinggi dan bersifat absolut.

2. Smrti, Kitab Manavadharmasastra secara tegas menyatakan bahwa Smrti itu adalah
semua kitab Dharmasastra ( II. 10 ). Kitab – kitab Dharmasastra yang merupakan hukum
Hindu tertulis yang jumlah seluruhnya 20 buah. Di antara kitab – kitab itu adalah Manava
dharmasastra yang paling lengkap dan telah diterjemahkan dan disesuaikan dengan
kondisi pada masa kejayaan Majapahit dengan nama – nama Agama, Purvagama ,
Adigama, Kutaragama dan lain-lain.

3. Sila merupakan tingkah laku atau teladan oorang – orang suci, ajaran atau contoh tingkah
laku ini dapat kita temukan di dalam kitab – kitab Purana (ancient history) dan Itihasa
seperti Ramayana dan Mahabharata.

4. Acara, adalah tradisi yang hidup dalam suatu masyarakat yang merupakan hukum yang
positip.

5. Atmanastusti, artinya rasa puas diri, artinya keputusan yang di ambil dapat memuaskan
diri setiap orang.

Pemahaman ini perlu diketengahkan mengingat Atmanastusti atau Atmatusti dan disebut juga dengan istilah Santosa mempunyai makna dapat memuaskan semua orang walaupun dalam naskah diterjemahkan kepuasan diri. Untuk hal ini tidak setiap orang dapat menetapkan atau mengambil suatu keputusan. Sesuai dengan tata urutan sumber hukum Hindu di atas, Atmanastusti baru kemudian diambil sebagai keputusan bersama apa bila ketentuan tentang sesuatu itu tidak di atur dalam ke empat sumber hukum sebelumnya (Sruti, Smrti, Sila dan Acara). Pengambilan keputusan yang dapat memuaskan semua pihak inilah yang dicoba untuk dikaji dalam tulisan singkat ini.

Membicarakan cara pengambilan keputusan menurut ajaran agama Hindu, kita tidak dapat melepaskan diri pada lembaga sebagai tempat diambil atau ditetapkannya suatu keputusan. Lembaga itu di dalam kitab suci Veda disebut Sabha, Vidatha atau Parisada. Kata Sabha berarti pertemuan atau permusyawaratan dan juga berarti balai pertemuan. Istilah Sabha ini sering dijumpai di dalam Rgveda, Yajurveda, Atharvaveda maupun dalam kitab- kitab Brahmana. Menurut Ludwig, tidak semua orang boleh menghadiri Sabha, yang boleh mengikuti Sabha adalah hanya orang-orang terpandang seperti para cendekiawan (Brahmana), tetapi Bloomfield menyatakan Sabha juga dapat diadakan oleh orang kebanyakan dan dapat juga berarti rumah (diadakan di rumah), sedang Zimmer menyatakan Sabha berarti tempat pertemuan yang dihadiri oleh Gramani,masyarakat desa . Kata ini sama artinya dengan Samiti. (Macdonell & Keith, II,l982 : 426,431).

Kata Vidatha menurut Roth, artinya yang penting adalah hukum atau perintah, kemudian berarti lembaga permusyawaratan untuk membahas hal-hal sekuler, sakral maupun tentang perang, sedang menurut Oldenberg, kata ini berarti aturan dan menurut Bloomfield berarti rumah (Ibid : 296). Selanjutnya kata Parisada, artinya duduk melingkar (terdiri dari beberapa orang melingkar menghadap ke tengah), pada mulanya untuk menunjukan Upanisad, tempat memperoleh pengetahuan spiritual yang dijelaskan oleh seorang guru, kemudian Gobhila Grhyasutra menyebutkan sebagai majelis atau lembaga(Ibid. I : 497) Di dalam kitab Manavadharmasastra kita mendapat penjelasan tentang fungsi atau peranan dan struktur maupun siapa saja yang patut duduk dalam lembaga Parisada ini (Pudja & Rai Sudharta, 1978 : 748-750).

Di dalam kitab suci Veda maupun di dalam susastra Hindu lainnya secara jelas dan mengkhusus belumlah kami jumpai teknik yang baik untuk mengambil keputusan secara mufakat karena yang terpenting dalam pengertian Atmanastusti itu adalah kepuasan diri atau setiap orang yang dipertanggung jawabkan kepada Tuhan Yang Mahaesa.Di dalam kitab suci Veda secara singkat kita mendapatkan teknik tentang Sabha yang disebut Sabhacara atau Sabhasad (yang berarti bagaimana kewajiban yang duduk dalam Sabha). Term atau istilah ini dapat dijumpai dalam Atharvaveda (III.29.1, VII.12.2; XIX.55.6. dan pada kitab-kitab yang belakangan seperti Kathaka Samhita VIII.7, Maitrayani Samhita I.6.11 dan lain-lain untuk mengadakan diskusi umum atau untuk menetapkan suatu keputusan (Macdonell & Kaith, II, 1982 : 428), namun bagaimana teknik itu tidak dijelaskan. dikatakan hanya dihadiri oleh orang-orang yang berkompeten saja.

Dengan menganalogikan teknik untuk mencapai Samadhi menurut kitab Patanjali Yogasutra, yakni mengadakan analisa terhadap argumentasi, permenungan, kebahagiaan bathin dan kesadaran diri :

Vitarka-vicara-ananda-asmita-anugamat-samprajnatah

Yogasutra I. 17.

(Samprajnata atau samadhi dengan kebijaksanaan sesuai dengan
pengamatan, alasan, argumentasi(vitarka), pertimbangan (vicara)
kebahagiaan sejati (ananda) dan kesadaran diri (asmita).
Tentang Vitarka yang berarti argumentasi, menurut Pandit Usharbudh Arya dalam kitabnya Yogasutra of Patanjali with the exposition of Vyasa, menyatakan kata Vitarka berasal dari kata Tarka yang berarti baru tahap pikiran atas dasar pengamatan yang bersifat logic(1986 : 484).Selanjutnya Svami Sivananda dalam bukunya All About Hinduism(1988) dan sudah diterjemahkan dengan judul: Intisari Ajaran Hindu dan diterbitkan oleh Paramita Surabaya menyatakan : Konsentrasi dan meditasi menuntun menuju samadhi atau pengalaman supra sadar yang memiliki beberapa tingkatan pendakian, disertai atau tidak disertai pertimbangan (Vitarka), analisa (Vicara) kebahagiaan (Ananda) dan kesadaran diri (Asmita). Demikian Kaivalya atau kemerdekaan tertinggi akan dicapai (1993 : 133).

Kutipan sutra atau syair dari Yogasutra tersebut bila kita analogikan dengan usaha untuk mengambil keputusan, maka langkah-langkah yang ditempuh antara lain :

1. Vitarka, pengamatan yang logic dan argumentasi yang mantap.
2. Vicara , pertimbangan dan analisa.
3. Ananda, yang memberikan kebahagiaan sejati.
4. Asmita, kesadaran diri.

Langkah-langkah tersebut mengingatkan kita pada Panca Upaya Sandhi yang termuat dalam lontar Siva Budhagama Tattva yang menguraikan langkah-langkah seorang pemimpin dalam menghadapi musuh-musuhnya maupun dalam mengambil keputusan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi, yaitu :

l. Maya, seorang pemimpin mampu mengumpulkan data atau permasalahan yang belum
jelas diterima.
2.Upeksa, seorang pempimpin mampu mengadakan analisa data dan informasi yang
berhasil dikumpulkan.
3. Indrajala,seorang pemimpin mampu mencari jalan keluar ataualternatip pemecahan yang
terbaik dalam mengatasi berbagai permasalahan.
4.Vikrama, dari berbagai jalan keluar atau alternatip terbaik yang diperoleh, seorang
pemimpin berarni mengambil tindakan yang tepat dengan konskuensi yang patut diterima.
5. Lokika, seorang pemimpin dalam mengambil keputusan atau tindakan harus rational
dengan pertimbangan akal yang sehat, jadi tidak emosional (Wiana, 1982 : 92).

Lebih jauh di dalam kitab Arthasastra (Kautilya Athasastra) dapat pula dijumpai sumber hukum yang dapat dijadikan langkah-langkah untuk mengambil keputusan, yaitu :

1. Dharma, yang bersumber pada kebenaran.
2. Bukti, yang bersumber pada pengamatan atau kesaksian.
3. Acara, adalah tradisi yang dijalankan oleh masyarakat.
4. Rajajna atau Ajna sasana patram, keputusan – keputusan pemerintah atau keputusan-
keputusan tertulis.(III.1.39,40).

Bila seorang raja (pemerintah) menegakkan keadilan sesuai dengan Dharma, Bukti, Acara dan Ajna ia akan mampu menguasai seluruh dunia. Bilamana terdapat ketikad cocokan antara tradisi dan Dharmasastra (kitab-kitab hukum) atau antara bukti-bukti dengan sastra, sesuatunya itu dikembalikan kepada Dharma.

Bilamana terjadi pertentangan antara Sastra dan hukum tertulis yang berdasarkan pada Dharma, maka hukum tertulis, maka hukum yang tertulis itu diberlakukan, dengan alasan bahwa penjelasan sastra berasal dari Dharma dan hal ini tidak terlalu lama tersedia pada kita (III.1.43-45).
Demikian antara lain langkah – langkah tata cara pengambilan keputusan menurut pemikiran Hindu yang secara sederhana dapat disimpulan melalui langkah-langkah anatara lain, sebagai berikut :

1. Pengumpulan atau kolekting data (Vitarka atau Maya).
2. Analisa data (Vicara atau Upeksa).
3. Mencari alternatip pemecahan(Indrajala).
4. Menetapkan suatu keputusan(Vikrama).
5. Keputusan memberikan kepuasan dipertanggung jawabkan kepada Tuhan Yang Mahaesa
(Ananda dan Asmita).

Langkah – langkah tersebut di atas dalam prakteknya di lapangan tentu disesuaikan dengan kondisi yang dihadapi. Untuk mengakhiri uraian singkat ini kami kutipkan kembali mantram kitab suci Veda tentang muswarah dan mufakat sebagai berikut :

sam gacchadvam sam vadadhvam
sam vo manamsi janatam,
deva bhagam yatha purve
samjanana upasate.
Rgveda X.191.2.

(Berkumpulah, bermusyawarahlah bicara satulah
dengan yang lain, satukanlah pikiranmu,
laksana para dewa pada jaman dahulu,
bersatu bersama-sama dalam persembahan)
sam janidhvam sam pracchadhvam

Atharvaveda, VI.64,l.
(Mufakatlah dan bersatulah)
Om Ksama svamam,
Om Santih, Santih, Santih.-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s